Berbagai upaya dilakukan NU demi membela NKRI. Sebagian besar warga nahdliyin dididik mencintai bangsa dan negaranya. Dijelaskan juga sebagai warganegara harus percaya ideologi Pancasila falsafah bernegara. Bukan gurauan, tidak sedikit warga NU rela mati menjaga kedaulatan negeri, Pancasila dan NKRI. Bahkan, dianggap tidak NU bila menolak Pancasila.
"Bagi NU, Pancasila dan NKRI harga mati!"
Berlebihan atau tidak saya tidak tahu. Berkembang singkatan PBNU berarti Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD.
Namun apa yang terjadi di lain wilayah? Kedaulatan negara dirampas korporasi. Aparat negara jadi anjing penjaganya. Mesin sudah lama beroperasi. Perusahaan-perusahaan besar diberi hak ekspoitasi puluhan tahun. Luasnya mencapai puluhan ribu hektar. Korporasi multinasional gunakan tongkat komando petinggi militer dan birokrat. Rakyat awam terpencil diam tidak mengerti mengatasinya meski menderita. Sebutlah itu penyakit, lantas ke mana musti berobat? Sebab gejala macam begini tidak ada klinik dan dokter ahlinya.
Kalau toch ada yang mendaku ahli, dia akan bilang, "hayo revolusi!"
Apa yang terjadi dalam revolusi? Perang saudara.
NU pengalaman dalam perang saudara.
Negara kasih izin eksploitasi sumber daya alam dengan menyembunyikan keuntungan boleh jadi berencana menipu warganya. Menggadaikan lahan kepada korporasi tanpa menciptakan pemerataan dan keadilan sama dengan mengingkari NKRI. Negara kesatuan hanya bisa berdiri tegak oleh karena melaksanakan prinsip Pancasila.
Sebagaimana wasiat Kiai Sahal yang disampaikan pada Rapat Pleno PBNU 6 September 2013 di Ponpes UNSIQ Al-Asy'ariyah Wonosobo, "NU harus إستقامة dan proaktif mempertahankan NKRI sebagai wujud final negara bagi bangsa Indonesia. Politik kerakyatan antara lain bermakna NU harus aktif memberikan penyadaran tentang hak-hak dan kewajiban rakyat, melindungi dan membela mereka dari perlakuan sewenang-wenang dari pihak manapun."
Perihal ini saya katakan, agar kita saling mengingatkan. Jangan lagi NU dijerumuskan ke arah perang saudara. Melindungi rakyat bukankah sama dengan menguatkan negara? Konon kaum terpinggir miskin dan teraniaya sebagian besar warga nahdliyin. Betapa ironis, pendukung Pancasila dan NKRI justru rakyat kecil sejenis warga nahdliyin. Maka marilah kita saling berikatan gotong-royong melindungi yang lemah, meski tanpa harus mengatasnamakan NU.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar