Jum'at, 4 April lalu, Jaringan GusDurian adakan diskusi menyoal "Gus Dur dan Media" di Wahid Institute bersama Ignatius dan Andreas Harsono (isi diskusinya akan saya tulis kapan-kapan). Lalu diskusi berakhir, dilanjut obrolan bersama Abdullah Wong, Savic Ali dan Inayah Wahid hingga bulan benar-benar ada di pucuk kepala. Mulai di aula, masih berlanjut ke depan toko buku.
Wong tengah merampungkan novel "Mata Sang Penakluk", mengisahkan perjuangan Gus Dur di masa muda. Tidak tanggung-tanggung, dia riset hingga ke pelosok dari pesantren ke pesantren yang pernah disambangi Gus Dur. Wawancara ke sana ke mari, walhasil, novel tidak kurang 300an halaman ini akan diterbitkan Mizan. Barangkali, Deden Ridwan juga sudah tidak sabar menunggu proyek ini beres. Kita perlu bersyukur dan doakan, semoga bulan depan Mata Sang Penakluk sudah beredar di pasaran.
Intermeso. Penulis "Kolom Putih" Jawapos, AS Laksana, semasa bertugas dengan Gus Ipul di Detik dulu, pernah punya pengalaman buruk soal rencananya menulis biografi Gus Dur. Seperti diakuinya sendiri dalam sebuah testimoni, Gus Dur bilang, "tidak akan rampung," kira-kira begitu jawab Gus Dur ketika Sulak meminta izin. Ndilalah, kata orang Jawa, ketika proses pengerjaan berjalan, laptopnya hilang. Saya tidak tahu, bagaimana perasaan Mas Sulak ketika itu.
Nah, selidik punya selidik, Inayah juga tengah mengerjakan hal serupa. Masyarakat tahu, pergulatan perjuangan Gus Dur di berbagai domain. Mulai dari pesantren, kebudayaan, politik domestik-internasional, Ornop, bahkan dunia kesenian. Spektrumnya begitu luas, hingga kita lupa, bagaimana Gus Dur yang jarang ada di rumah?
Puteri bungsu Gus Dur ini akan mengisahkan ruang batin Gus Dur dalam keluarga. Tahukah kita Gus Dur punya hubungan spesial dengan wong-wong cilik seperti pedagang ketoprak di depan gedung PBNU? Barangkali Inay tidak melewatkan bagian ini dalam bukunya nanti.
Kita tahu Gus Dur ini gila. Beliau gila baca walaupun sudah tidak bisa melihat dengan baik, dan kondisi kesehatannya memburuk. Saya tanya Inay, buku apa yang digemari Gus Dur? Katanya, sewaktu bapak sakit-sakitan, bolak-balik ke rumah sakit, bapak suka memutar audiobook tentang cerita anak kecil yang heran pada dunia orang dewasa. Audiobook itu diputar berulang-ulang. Apa judulnya?
Inayah rupanya juga menyukai buku tersebut. Favorit Gus Dur menjelang wafat, beliau suka kisah "The Little Prince" karya Antoine de Saint Exupery.
Mari kita kirimi Fatehah buat Gus Dur dan Antoine de Saint-Exupéry
Tidak ada komentar:
Posting Komentar